Gejolak Pasar Crypto Global: Tekanan Makro dan Tantangan bagi Investor Indonesia
Pasar kripto global mengalami tekanan besar akhir pekan lalu, dengan kapitalisasi pasar turun hingga US$100 miliar. Gejolak geopolitik dan perubahan kebijakan AS menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas aset digital.
Aditya Yudha Pradhana

Gejolak pasar kripto global mencuat akhir pekan lalu, dengan kapitalisasi pasar turun hingga US$100 miliar dalam sepekan. Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Bitcoin, aset kripto terbesar, mencatat penurunan signifikan, dengan harga tercatat di level US$87.000, menurut data dari Coinmarketcap.
Geopolitik dan Makroekonomi: Pemicu Utama Ketidakstabilan
Ekspansi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS setelah kepemimpinan baru di Federal Reserve menjadi penyebab utama pelemahan pasar kripto. Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian yang berdampak langsung pada investor, terutama yang mengandalkan aset digital sebagai instrumen spekulatif.
Krisis Global dan Prediksi Anjlok Harga Bitcoin
Analisis dari Gareth Soloway memprediksi bahwa jika krisis global terjadi, harga Bitcoin bisa anjlok ke US$35.000. Namun, analis juga menyatakan bahwa rebound jangka pendek tetap terbuka, tergantung pada respons pasar terhadap perubahan kebijakan dan dinamika geopolitik.
Indodax: Fundamental Kripto Masih Kuat di Tengah Gejolak
Meski pasar sedang tidak stabil, Indodax mengklaim bahwa fundamental kripto masih kuat. Vice President Indodax menyoroti bahwa kombinasi faktor global, seperti eskalasi ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS, tidak mengubah potensi jangka panjang aset digital, terutama bagi pengguna di Indonesia.
Dampak pada Investor Indonesia: Antara Risiko dan Peluang
Bagi investor di Indonesia, gejolak pasar kripto membawa tantangan dan peluang. Meski volatilitas tinggi, beberapa analis menyebutkan bahwa kebijakan regulasi yang lebih jelas dan pertumbuhan ekonomi lokal bisa menjadi peluang untuk memanfaatkan fluktuasi harga. Namun, risiko jangka pendek tetap tinggi, terutama bagi pemula yang tergoda spekulasi.