Finansial

PGEO: Saham Panas Bumi yang Mengguncang Pasar Energi Hijau

Apakah PGEO layak masuk portofolio Anda? Analisis mendalam keuangan, teknikal, dan prospek diversifikasi mengungkap jawabannya.

A

Aditya Y Pradhana

PGEO: Saham Panas Bumi yang Mengguncang Pasar Energi Hijau

Kenapa PGEO Jadi Bintang di Kancah EBT?

Saya baru saja menyimak laporan terbaru tentang Amunisi Besar Pertamina Geothermal (PGEO). Karena menghasilkan listrik bersih, PGEO mendapat pujian atas keunggulan struktural dibandingkan emiten energi terbarukan (EBT) lain yang masih sangat bergantung pada faktor cuaca. Padahal, volatilitas cuaca menjadi salah satu risiko utama bagi tenaga surya atau angin. Geothermal, dengan sumber panas bumi yang relatif stabil, menawarkan pasokan energi yang lebih dapat diprediksi, sehingga meminimalkan fluktuasi produksi listrik dan menurunkan risiko operasional.

Keunggulan ini bukan sekadar teori. Dalam praktiknya, PGEO telah membuktikan bahwa ia dapat mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas yang konsisten, sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan. Dari sudut pandang investor, stabilitas produksi berarti cash flow yang lebih dapat diandalkan, yang pada gilirannya meningkatkan nilai wajar saham.

Selain stabilitas produksi, PGEO juga berada di posisi strategis karena dukungan penuh dari grup Pertamina, perusahaan energi milik negara yang memiliki jaringan distribusi dan kebijakan energy transition yang kuat. Kombinasi antara sumber daya alam yang melimpah dan sinergi korporat ini menjadi fondasi yang membuat PGEO menonjol di antara para pemain EBT lainnya.

Fundamental Keuangan: Lebih Dari Sekadar Angka Bersih

Beranjak ke data keuangan, PGEO menunjukkan tren positif yang menarik. Pendapatan lain‑lain bersih tercatat sebesar Rp387,99 miliar, sementara laba usaha mencatat dua nilai penting: Rp109,703 miliar dan Rp112,809 miliar. Kenaikan laba usaha ini mengindikasikan efisiensi operasional yang terus membaik, mengingat biaya produksi geothermal relatif tetap setelah fase pembangunan selesai.

Pendapatan keuangan juga menunjukkan perbaikan, yakni naik dari Rp15,773 miliar menjadi Rp19,918 miliar. Peningkatan ini sebagian berasal dari hasil investasi jangka pendek dan pengelolaan kas yang lebih optimal, bukan dari aktivitas utama perusahaan. Namun, peningkatan pendapatan keuangan tetap menambah total profitabilitas yang dapat di‑reinvestasikan ke proyek ekspansi.

Market cap PGEO saat ini berada di angka Rp48,5 triliun dengan total saham beredar mencapai 41,81 miliar lembar. Volume rata‑rata tiga bulan terakhir mencapai 39,62 juta lembar, menandakan likuiditas yang cukup baik untuk investor institusional maupun retail.

Jika dilihat dari perspektif pertumbuhan, pendapatan perusahaan pada Januari 2026 tercatat Rp419,96 miliar, naik signifikan dibandingkan tahun‑tahun sebelumnya. Perubahan harga saham selama satu tahun terakhir menunjukkan kenaikan sebesar 26,9231%, yang menunjukkan minat pasar yang kuat terhadap saham ini.

"PGEO memiliki ruang untuk naik ke level Rp1.350 per lembar, didukung tren EBT dan valuasi yang masih menarik," kata seorang analis pada 16 Mei 2025.

Analisis tersebut menggarisbawahi bahwa meskipun saham sudah mengalami kenaikan, masih terdapat headroom yang cukup besar sebelum mencapai target harga yang diproyeksikan.

ItemNilai
Market CapRp48,5 T
Saham Beredar41,81 M lembar
Pendapatan (2026)Rp419,96 M
Laba UsahaRp109,703 M – Rp112,809 M
Pendapatan Lain‑lain BersihRp387,99 M
Pendapatan KeuanganRp15,773 M – Rp19,918 M

Teknikal dan Sentimen Pasar: Resistance, MA, dan Momentum

Dari sisi teknikal, PGEO sedang menguji resistance yang bertepatan dengan Moving Average 20 (MA20). Pengujian ini menjadi titik krusial karena jika harga berhasil menembus level resistance, peluang kenaikan selanjutnya menjadi lebih kuat.

Momentum stochastic saat ini menunjukkan penguatan, yang berarti tekanan beli semakin besar. Kombinasi antara support kuat pada MA20 dan momentum bullish menandakan bahwa pasar sedang dalam fase akumulasi.

Data per 29 Juli 2025 mencatat bahwa saham PGEO naik 5,83% dibandingkan minggu sebelumnya, meskipun dalam sebulan terakhir mengalami penurunan −8,53%. Penurunan bulanan ini dapat dipandang sebagai koreksi alami setelah fase rally sebelumnya, namun tidak mengubah tren jangka panjang yang masih positif.

Selain itu, laporan pada 22 Mei 2025 menyebutkan bahwa pendapatan diperkirakan dapat mencapai Rp340 juta pada tahun tersebut dan terus tumbuh. Proyeksi pada 2028‑2029 bahkan menyentuh angka Rp1 triliun, yang menambah optimism investor terhadap fundamental jangka panjang.

Bergerak ke arah forward‑looking, banyak trader kini menanyakan: "Apakah saat ini waktunya buy if breakout?" Jawabannya bergantung pada kemampuan harga menembus resistance MA20 dengan volume yang mendukung. Volume rata‑rata 3 bulan sebesar 39,62 juta lembar menunjukkan likuiditas yang cukup untuk menahan volatilitas breakout.

Strategi Investasi: Beli Saat Breakout atau Tahan Jangka Panjang?

Kita kembali ke pertanyaan inti: apakah PGEO layak dibeli sekarang atau dijadikan holdings jangka panjang? Jawabannya tidak satu‑dimensi.

  • Strategi breakout: Jika harga menembus resistance MA20 dengan volume di atas rata‑rata (misalnya >40 juta lembar), maka sinyal bullish kuat dapat memicu rally selanjutnya. Pada titik ini, posisi beli dengan target awal bisa diarahkan ke level Rp1.350 yang diproyeksikan oleh analis.
  • Strategi value‑investing: Dengan valuasi masih menarik dan fundamental yang kuat, investor dapat menahan saham untuk memperoleh manfaat dari pertumbuhan pendapatan jangka panjang, terutama mengingat proyeksi pendapatan hingga Rp1 triliun pada 2028‑2029.
  • Strategi diversifikasi: PGEO juga membuka peluang diversifikasi ke sektor non‑kelistrikan. Seperti yang diungkap pada 16 Desember 2025, perusahaan bersiap mengoptimalkan energi panas bumi untuk aplikasi seperti data center, yang dapat menambah aliran pendapatan baru.

Dengan tiga pendekatan tersebut, keputusan akhir tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing‑masing. Investor yang toleran terhadap volatilitas dapat mengambil posisi breakout, sementara yang mengutamakan stabilitas dapat menahan saham sebagai bagian dari portofolio green energy.

Masa Depan PGEO: Diversifikasi ke Data Center dan Lainnya

Langkah strategis PGEO untuk mengoptimalkan energi panas bumi di luar sektor kelistrikan menjadi poin menarik. Penggunaan panas bumi untuk pendinginan data center, misalnya, dapat membuka aliran pendapatan yang relatif terpisah dari regulasi energi listrik.

Data center membutuhkan energi yang stabil dan suhu yang terjaga, sehingga solusi panas bumi menjadi sangat relevan. Jika PGEO berhasil mengamankan kontrak dengan pemain teknologi besar, margin tambahan dapat muncul, meningkatkan profitabilitas secara keseluruhan.

Selain data center, potensi aplikasi lain meliputi industri pengolahan makanan, farmasi, dan bahkan pertanian indoor yang memerlukan kontrol suhu dan kelembaban. Diversifikasi ini tidak hanya menambah pendapatan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada satu segmen pasar.

Namun, perlu diingat bahwa diversifikasi membutuhkan investasi awal yang signifikan untuk infrastruktur dan riset pasar. Hal ini dapat mempengaruhi cash flow jangka pendek, meskipun manfaat jangka panjangnya potensial.

Kesimpulan: Apakah PGEO Layak di Portofolio Anda?

Setelah menelaah semua aspek—keunggulan struktural geothermal yang stabil, fundamental keuangan yang menunjukkan pertumbuhan laba dan pendapatan, sinyal teknikal yang menguji resistance MA20, serta rencana diversifikasi ke data center—saya sampai pada kesimpulan bahwa PGEO merupakan kandidat kuat untuk portofolio yang mengedepankan energi hijau.

Jika Anda mencari saham dengan potensi upside yang signifikan (target Rp1.350) dan tidak keberatan dengan volatilitas jangka pendek, strategi beli saat breakout dapat menjadi pilihan. Bagi yang lebih suka pendekatan konservatif, menahan saham sebagai bagian dari investasi jangka panjang tetap masuk akal, mengingat proyeksi pendapatan yang dapat mencapai Rp1 triliun pada akhir dekade.

Akhir kata, PGEO tidak hanya menawarkan peluang investasi, tetapi juga menjadi contoh bagaimana perusahaan energi tradisional dapat bertransformasi menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau. Jadi, apakah Anda siap menambahkan PGEO ke dalam daftar saham favorit?

Bagikan Artikel

Artikel Terkait